Autobiografi
Nama saya Rudi, lebih lengkapnya Rudi Afandi. Sebenarnya, nama ini bukan nama asli dari pemberian orang tua. Orang tua saya memberi nama saya itu Rudi Prayogo tetapi ketika dibuat di akta kelahiran Si Pemohon yang kebetulan diwakilkan oleh orang lain melakukan kesalahan, entah kenapa beliau kepikiran dengan nama Rudi Afandi dan yang paling saya tidak mengerti sampai sekarang belum diganti, alasan kata orang tua entar nambah biaya lagi. Jadi, saya dengan senang hati menerima ini walaupun bukan dari pemberian orang tua saya, toh.. tetap saja dipanggilnya “Rudi”.
Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan semuanya adalah laki-laki. Lahir dari sepasang suami-istri, nama bapak saya Wajan dan Ibu saya Sa’adah. Bapak pekerjaannya adalah Petani dan Tukang bangunan, sedangkan Ibu Petani sekaligus menjadi ibu rumah tangga. bersyukur bisa lahir di keluarga sederhana dan bahagia ini.
Di umur enam tahun saya masuk TK, tentu seperti anak-anak yang lain ketika masih awal-awal diantar ibu ke sekolah. Di TK diajarkan dasar-dasar tentang menulis,membaca,menghitung, terkadang menggambar juga. salah satu kegiatan yang paling saya suka ketika masa ini adalah makan bubur ijo setiap hari jumat dan senam pagi di hari sabtu. selama satu tahun menghabiskan waktu di TK dan kemudian melanjutkan ke Sekolah dasar.
Setelah dari Taman kanak-kanak melanjutkan ke sekolah dasar. SDN Curug 1 ini adalah sekolah SD saya, Di desa saya ini termasuk desa pelosok jadi cuma ada dua sekolah dasar saja dan itu pun letaknya berjauhan. Sama seperti waktu TK, di sekolah SD juga saya masih diantar untuk berangkat sekolah. di Kelas satu SD ini hampir mirip-mirip sama TK karena yang diajarkan dasar-dasar tentang menulis,membaca dan menghitung. perbedaanya lebih ke jumlah teman karena di SD pada saat itu hampir mencapai 50 orang satu kelas. Oh, iya di kelas satu ini aku mendapat peringkat dua, yang mendapat peringkat satu adalah perempuan.
Masa sekolah dasar yang menyenangkan dan menantang adalah waktu kelas 5, karena tepat ketika kami kelas 5 mendapat giliran untuk mengikuti ajang O2SN tingkat kecamatan. Kegiatan O2SN diadakan setiap dua tahun sekali, dan kebetulan pada tahun sebelumnya sekolah kami ini juara bertahan di cabang Bola Voli putra, ini menjadi tantangan bagi angkatan kami untuk terus mempertahankan gelar. Satu bulan persiapan untuk menghadapi O2SN tingkat kecamatan, cabang yang kami ikuti ada Atletik, sepak bola, catur dan tentu saja bola voli. Saya dimasukkan oleh Pak guru ke tim sepak bola, karena kurangnya kemampuan dalam bermain bola voli padahal saya ingin ikut yang bola voli, tapi tidak apa-apa yang penting bisa mewakili sekolah ini sudah lebih dari cukup. Sesuai dugaan dan harapan saya Tim bola voli berhasil mengamankan juara. sedangkan tim saya yaitu sepak bola hanya mampu menembus babak 16 besar. Di O2SN ini pula banyak bertemu dengan teman-teman dari SD yang lain se-kecamatan Kandanghaur. Ini menjadi pengalaman saya mengikuti lomba dan sangat berkesan pada hidup saya.
Selesai dari kelas 5 naik ke kelas 6 terasa cepat sekali masa Sekolah dasar ini, tentu di Kelas 6 yang ditakuti siswa pada umumnya dan khususnya saya adalah Ujian Nasional, karena pada saat itu Ujian Nasional masih menjadi tolak ukur kelulusan murid-murid. Persiapan UN dari pihak sekolah sudah cukup baik, mulai mengadakan TO tingkat sekolah 3 bulan menjelang UN, kemudian diadakan jam tambahan setelah pulang sekolah untuk membahas soal-soal UN. Ketika hari pelaksanaan tiba dengan perasaan agak gugup tapi Alhamdulillah berjalan dengan baik sampai hari akhir. Sambil menunggu hasil UN keluar saya sibuk mempersiapkan diri untuk belajar dalam rangka persiapan tes masuk SMP, seba SMP tujuan saya yaitu SMPN 1 Kandanghaur menerima peserta didik baru dengan seleksi tes tulis. Tiba saatnya pengumuman hasil UN, saya mendapatkan hasil nilai yang lumayan baik walaupun masih ada nilai 7 di pelajaran matematika. Lulus dari SD melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya yaitu sekolah menengah pertama.
Lanjut ke jenjang pendidikan berikutnya yaitu sekolah menengah pertama, sesuai yang sempat saya singgung sebelumnya masuk SMPN 1 Kandanghaur harus melalui tes tulis terlebih dahulu. Saya masih ingat sekali mendapat ruangan di kelas paling belakang yang dekat dengan WC. Test-nya berupa soal pilihan ganda, lebih dari seratus soal yang harus dikerjakan oleh para peserta didik baru yang ingin masuk sekolah ini, Karena sudah jauh dari hari saya mempersiapkan tes tidak terlalu susah menurut saya. Dan benar saja pada saat pengumuman saya berada di peringkat ke tiga besar sebuah langkah awal yang baik. Perbedaan SMP dan SD tentu saja ada di masa orientasi atau pada zaman itu disebutnya MOS. Saya mengalami kesusahan ketika harus mencari perlengkapan MOS yang menurut saya itu aneh dan susah dicari di sekitar rumah. MOS diadakan selama tiga hari ditutup dengan penutupan.
Masa sekolah menengah berjalan dengan baik, pada saat kelas VII saya bisa mendapat ranking 1, kelas VIII ranking 1 juga, namun di Kelas IX hanya bisa mendapat ranking 2. Saya termasuk siswa rajin pada saat itu hampir setiap hari jadwal penuh dengan berbagai kegiatan seperti ikut ekskul karate dan di hari rabu dan kamis ada yang namanya Madrasah diniyah wustho setelah jam KBM. Tiba saatnya wisuda atau acara pawidya SMPN 1 Kandanghaur yang pada angkatan saya diadakan di luar sekolah dengan menyewa gedung. Masa SMP berakhir lanjut ke masa sekolah menengah atas yang katanya adalah masa yang paling bahagia dan menyenangkan.
Sebelumnya terjadi perdebatan batin untuk menentukan SMA atau SMK yang akan menjadi jenjang pendidikan saya berikutnya. setelah hampir satu minggu menimbang-nimbang pilihan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA. Pada waktu pendaftaran saya mendaftar dua SMA yaitu SMAN 1 Kandanghaur dan satu lagi-nya SMAN 1 Sindang. Semua jalur yang saya pilih adalah jalur dari nilai UN dan raport selama saya belajar di SMPN 1 Kandanghaur. Saya diterima di kedua sekolah yang daftarkan, sempat ingin memilih di SMAN 1 Sindang tapi batal karena pertimbangan jarak dan biaya sekolah yang mahal. Akhirnya, memutuskan untuk di SMAN 1 Kandanghaur sekolah tetangga ketika zaman SMP. SMAN 1 Kandanghaur sendiri termasuk sekolah tertua yang ada di Indramayu. Setelah pendaftaran ulang dan administrasi selesai tibalah masa orientasi sekolah, karena sudah ada pengalaman sebelumnya waktu SMP jadi menurut saya MOS di SMA ini tidak terlalu melelahkan dalam mencari perlengkapan ditambah ada sahabat saya namanya Anton yang menemani dalam mencari perlengkapan MOS. Pada saat saya SMA yaitu tahun 2015 tetapi masih menggunakan kurikulum yang lama yaitu KTSP atau kurikulum 2006. Jadi ketika kelas X semua kelas sama aja materi pelajaran baik IPA atau IPS diajarkan bersamaan. Saya mendapat kelas terujung yaitu kelas X-10. Serunya di SMA temannya bukan se-kecamatan lagi tapi antar kecamatan. Di SMA ini juga ada ekskul wajib yang harus diikuti oleh peserta didik baru yaitu Pramuka yang diadakan setiap hari sabtu setelah kbm selesai.
Di kelas XI menurut saya adalah masa yang paling menyenangkan dan paling berkesan, Saya masuk di kelas XI IPA 1 beruntung bisa masuk kelas ini walaupun cowoknya cuma sedikit tapi seru dan satu lagi dari kelas X,XI,dan XII hanya di kelas XI IPA 1 bisa meraih juara umum Porak (Pekan Olahraga Antar Kelas) berkat Juara 1 basket Putra dan Putri, Juara 3 Bola voli putra, Juara 3 Futsal putra dan putri. Saya merasakan betapa kompaknya teman-teman sekelas pada masa porak. Hadiah dari panitia berupa ayam potong sekitar 12 ekor kalau saya tidak salah ingat, menutup Porak dengan acara bakar-bakaran ayam lengkap sudah.
Memasuki kelas XII siap-siap berjumpa lagi dengan ujian nasional. Semester 1 menurut saya tidak terlalu sibuk hanya belajar seperti biasa pada umumnya. Nah, Di semester 2 mulai terasa kegiatan di sekolah begitu padat sekali mulai pagi kegiatan belajar mengajar seperti biasa, setelah itu lanjut ada pelajaran tambahan atau les dari pihak sekolah untuk persiapan Ujian Nasional sampai jam 4 sore. Pulang ke rumah disibukkan dengan pekerjaan rumah, kemudian dilanjut mandi, kemudian shalat maghrib dan mengaji sampai shalat i’sya di masjid terus pulang ke rumah untuk makan malam. Setelah makan malam selesai lanjut belajar lagi untuk me-review materi UN yang diajarkan di sekolah jika masih ada waktu ditambah belajar mandiri untuk persiapan SBMPTN. Rutinitas seperti itu terjadi kurang lebih 3 bulan. Hingga datang pendaftaran SNMPTN kami pada saat itu disuruh untuk menginput nilai raport kami sendiri dibimbing oleh guru TIK. Dikarenakan pada saat itu UN tidak menjadi standar kelulusan lagi jadi kebanyakan siswa diakhir-akhir masa kelas XII lebih mempersiapkan belajar untuk SBMPTN. Karena kami sadar pada saat itu setiap tahunnya siswa dari sekolah kami yang lolos SNMPTN hanya beberapa puluh orang saja.
Jeda dari Ujian nasional yang telah selesai dilaksanakan dengan acara Pawidya atau perpisahan cukup jauh, jadi kesempatan itu saya lakukan sebaik-baiknya untuk belajar SBMPTN lagi dan lagi karena setelah melihat pengumuman SNMPTN saya tidak diterima, agak sakit hati tapi ini karena salah saya sendiri memilih kampus di luar domisili dan tidak adanya alumni dari sekolah saya yang kuliah disana tentu peluang diterimanya sangat kecil.
Masa SMA sudah selesai ditandai dengan acara pawidya atau perpisahan, Yang saya sesali semasa SMA yaitu tidak bisa menjadi peserta OSN Fisika di tingkat Kabupaten padahal peluangnya saya cukup besar tetapi karena kurangnya informasi jadi tidak tahu mengenai waktu seleksi peserta yang akan dijaring untuk mewakili sekolah ini, dan satu lagi ketidakaktifan dalam mengikuti perlombaan ini juga menjadi penyesalan, benar kata orang penyesalan itu adanya belakangan. Saya harus berjuang lebih kuat lagi dari orang-orang lain.